KESELAMATAN KERJA LABORATORIUM
PART I
Assalamualaikum Wr.Wb.
Bagaimana matri pertamanya sobat ?
Semoga bisa dinikmati dan memberikan manfaat.
Nah .... Postingan kali ini adalah mengenai Keselmatan Kerja Laboratorium.
Supaya tetap nyaman dan aman saat praktikum atau berkerja di laboratorium, kita harus paham bahaya apa yang ada di laboratorium, peraturan yang harus ditaati dan masih banyak lagi.
Yuks .... Langsung ke materi.
A.
Jenis –
Jenis Bahaya di Laboratorium
1.
Pengertian Bahaya
Bahaya adalah sumber, situasi, atau
tindakan yang dapat berpotensi menimbulkan cidera atau penyakit atau kombinasi
keduanya. Bekerja di laboratorium mengandung bahaya berupa
kecelakaan. Kecelakaan yamg sering terjadi di laboratorium berupa kebakaran,
kesakitan, kematian dan kerugian akibat kecelakaan ataupun kerusakan peralatan
laboratorium.Untuk menghindari dan meminimalkan kemungkinan terjadinya
potensi bahaya di tempat kerja, Pengenalan potensi bahaya di tempat kerja
merupakan dasar untuk mengetahui pengaruhnya terhadap tenaga kerja, serta dapat
dipergunakan untuk mengadakan upaya-upaya pengendalian dalam rangka pencegahan
penyakit akibat kerja yang mungkin terjadi.
Terdapat
serangkaian strategi dasar yang bisa dilakukan untuk mencegah bahaya agar tidak
melukai orang dan merusak properti, hal ini disebut sebagai hirarki
pengendalian bahaya. Hirarki ini mendefinisikan prioritas untuk menangani
produk atau mengatasi bahaya lingkungan. pertama adalah merancangnya sehingga
tidak terdapat bahaya, kedua adalah mencegah kontak antara orang dan bahaya,
dan yang ketiga memperingatkan (Laughery dan Wogalter, 2011).
Pendekatan
pertama dan yang lebih disukai untuk mengatasi bahaya adalah dengan
menghilangkannya melalui desain alternatif. Mengganti komponen yang tidak
beracun untuk komponen beracun dalam produk kimia adalah contohnya (Sheldon,
2016). Namun, tidak selalu layak secara teknologi dan ekonomi untuk merancang
suatu produk sehingga tidak memiliki bahaya.
Prioritas kedua
adalah perlindungan, dapat dipandang sebagai sarana untuk mencegah kontak
antara orang dan bahaya. Perlindungan fisik seperti alat pelindung diri
merupakan langkah yang bisa diambil pada kasus ini (Sutton, 2017). Melindungi
juga dapat dilakukan secara prosedural, seperti adanya SOP yang ketat untuk
aktivitas laboratorium, atau kombinasi antara fisik dan prosedural (Indiana
University, 2017). Namun, seperti masalah desain alternatif, perlindungan tidak
selalu layak atau efektif, yang berarti diperlukan metode lain.
Tahapan ketiga dari pengendalian terhadap bahaya adalah dengan
memperingatkan. Peringatan dimaksudkan untuk memberikan informasi yang
dibutuhkan dalam penggunaan produk (atau saat dipakai di lingkungan) secara
aman. Peringatan, seperti halnya strategi lain juga memiliki keterbatasan dalam
hal efektivitas. Orang mungkin tidak melihat atau mendengar sebuah peringatan,
mereka mungkin tidak memahaminya, atau mereka mungkin tidak cukup termotivasi
untuk menaatinya. Tapi kekhawatiran ini bukan dasar atau alasan untuk tidak
memberi peringatan. Sebaliknya, keterbatasan ini memiliki dua implikasi
praktis. Salah satunya adalah bahwa peringatan tersebut perlu dirancang
sedemikian rupa sehingga membuatnya lebih efektif. Poin kedua adalah bahwa
peringatan tersebut harus dianggap sebagai satu alat atau pendekatan untuk
menangani produk dan menjaga keamanan lingkungan (Laughery dan Wogalter, 2011).
Secara
umum, potensi bahaya lingkungan kerja dapat berasal atau bersumber dari
berbagai faktor, antara lain :
1)
faktor teknis, yaitu potensi bahaya yang
berasal atau terdapat pada peralatan kerja yang digunakan atau dari pekerjaan
itu sendiri;
2)
faktor lingkungan,
yaitu potensi bahaya yang berasal dari atau berada di dalam lingkungan, yang
bisa bersumber dari proses produksi termasuk bahan baku, baik produk antara
maupun hasil akhir;
3)
faktor manusia, merupakan
potensi bahaya yang cukup besar terutama apabila manusia yang melakukan
pekerjaan tersebut tidak berada dalam kondisi kesehatan yang prima baik fisik
maupun psikis.
2.
Hal Yang Harus
Diperhatikan
Ada tiga hal yang harus diperhatikan agar peringatan tersebut
menjadi efektif. Pertama, peringatan harus menarik perhatian. Orang biasanya
tidak mencari-mencari peringatan; Oleh karena itu, peringatan harus mencolok.
Kedua, peringatan tersebut harus memberikan pengetahuan dan meningkatkan
pemahaman pengguna tentang peringatan untuk membuat individu sadar akan bahaya,
konsekuensi serta apa yang harus dilakukan untuk menghindari bahaya tersebut.
Ketiga, peringatan harus menumbuhkan perilaku kepatuhan. Mengarahkan dalam
pengambilan keputusan, terutama pada tahap pengetahuan (Emery, dkk, 2015).
Laughery dan Wogalter (2011) menyimpulkan bahwa efektivitas peringatan di
masing-masing bidang ini ditentukan oleh faktor desain dan non-desain. Faktor
desain adalah faktor yang terkait dengan karakteristik peringatan sebenarnya
(misalnya: piktogram), sedangkan faktor non-desain berkaitan dengan faktor
kontekstual yang tidak bergantung pada desain peringatan sebenarnya.
Alasan seseorang mematuhi peringatan tidak hanya bergantung pada
karakteristik peringatan tetapi juga pada banyak faktor tambahan, seperti
pengalaman pengguna, keakraban dengan produk atau situasi, kompetensi atau
kemampuan untuk melakukan tindakan tersebut, dan pertimbangan terhadap
biaya-manfaat. Biaya dapat berupa uang, waktu, dan usaha. Manfaat termasuk
menghindari cedera, kerusakan properti, atau efek kesehatan negatif.
Meskipun ada
bahaya yang terkait dengan pekerjaan laboratorium, potensi bahaya dapat
dikurangi dengan memberlakukan sistem penanganan dan pengelolaan yang aman.
Kecelakaan terkait bahan kimia kebanyakan terjadi karena pengabaian tindakan
pencegahan atau tidak adanya simbol kehati-hatian pada bahan tersebut (Su dan
Hsu, 2008). Jadi untuk menarik perhatian pengguna serta sarana untuk
mengklasifikasikan bahan kimia, masing-masing bahan kimia harus diberi label
dengan simbol pencegahan bahaya yang menunjukkan fiturnya. Simbol-simbol ini
(mudah terbakar, korosif, mengiritasi, berbahaya bagi lingkungan, radioaktif,
pengoksidasi, toksik atau berbahaya) mencakup berbagai warna dan gambar yang
dirancang untuk memberi tahu pengguna tentang fitur bahan kimia (United Nations,
2017). Simbol pencegahan bahaya dan risiko ini harus diketahui oleh semua orang
yang masuk laboratorium. Pemahaman terhadap makna dari simbol pencegahan bahaya
akan membantu penggunaan bahan kimia secara aman.
3.
Penyebab Terjadinya Kecelakaan Atau Bahaya
Terjadinya kecelakaan dapat disebabkan oleh banyak hal, tetapi dari
analisis terjadinya kecelakaan menunjukkan bahwa hal-hal berikut adalah
sebab-sebab terjadinya kecelakaan di laboratorium:
1.
Kurangnya
pengetahuan dan pemahaman tentang bahan-bahan kimia dan proses-proses serta
perlengkapan atau peralatan yang digunakan dalam melakukan kegiatan
laboratorium.
2.
Kurang jelasnya
petunjuk kegiatan laboratorium dan juga kurangnya pengawasan yang dilakukan
selama melakukan kegiatan laboratorium.
3.
Kurangnya bimbingan
terhadap siswa atau mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan laboratorium.
4.
Kurangnya atau
tidak tersedianya perlengkapan keamanan dan perlengkapan pelindung kegiatan
laboratorium.
5.
Kurang atau
tidak mengikuti petunjuk atau aturan-aturan yang semestinya harus ditaati.
6.
Tidak
menggunakan perlengkapan pelindung yang seharusnya digunakan atau menggunakan
peralatan atau bahan yang tidak sesuai.
7.
Tidak bersikap
hati-hati di dalam melakukan kegiatan.
Terjadinya kecelakaan di laboratorium dapat dikurangi seminimal
mungkin jika setiap orang yang menggunakan laboratorium mengetahui tanggung
jawabnya. Berikut adalah orang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap
keamanan laboratorium:
1.
Lembaga atau
staf laboratorium bertanggung jawab atas fasilitas laboratorium yaitu
kelengkapannya, pemeliharaan, dan keamanan laboratorium.
2.
Guru
bertanggung jawab di dalam memberikan semua petunjuk yang diperlukan kepada
siswa termasuk di dalamnya aspek keamanan.
3.
Siswa
bertanggung jawab untuk mempelajari aspek kesehatan dan keselamatan dari
bahan-bahan kimia yang berbahaya, baik yang digunakan maupun yang dihasilkan
dari suatu reaksi, keselamatan dari teknik dan prosedur atau cara kerja yang
akan dilakukannya. Dengan demikian siswa dapat menyusun peralatan dan mengikuti
prosedur yang seharusnya, sehingga bahaya kecelakaan dapat dihindarkan atau
dikurangi.
4.
Jenis Kecelakaan Dapat Terjadi
Dilaboratorium Sekolah
Berbagai jenis kecelakaan dapat
terjadi dilaboratorium sekolah. Jenis-jenis kecelakaan yang dapat terjadi di
laboratorium sekolah diantaranya:
a. Terluka, disebabkan
oleh pecahan kaca dan/atau tertusuk benda-benda tajam yang lain.
b. Terbakar,disebabkan
tersentuh api atau benda panas lain, dan oleh bahan kimia tertentu seperti
fosfor.
c. Terkena
Racun (Keracunan),keracunan ini terjadi karena bekerja menggunakan zat
beracun yang secara tidak sengaja dan/atau kecerobohan masuk ke dalam tubuh.
Perlu diketahui bahwa beberapa jenis zat beracun dapat masuk ke dalam tubuh
melalui kulit.
d. Terkena
Zat Korosif,seperti berbagai jenis asam. Misalnya asam siliat pekat, asam
format, atau berbagai jenis basa seperti natrium hidroxida, kalium hidroksida
dan ‘0,880’ larutan amonia dalam air.
e. Terkena
Radiasi, radiasi sifatnya sangat berbahaya jika terkena ke tubuh
manusia, misalnua sinar dari zat radioaktif (jika disekolah tersedia zat
seperti ini), sinar X dan sinar Ultraviolet.
f. Terkena
Kejutan Listrik, pada waktu menggunakan listrik bertegangan tinggi.
Beberapa sumber bahaya yang
berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Bahan
Kimia
Meliputi bahan mudah terbakar,
bersifat racun, korosif, tidak stabil, sangat reaktif, dan gas yang berbahaya.
Penggunaan senyawa yang bersifat karsinogenik dalam industri maupun
laboratorium merupakan problem yang signifikan, baik karena sifatnya yang
berbahaya maupun cara yang ditempuh dalam penanganannya. Beberapa langkah yang
harus ditempuh dalam penanganan bahan kimia berbahaya meliputi manajemen, cara
pengatasan, penyimpanan dan pelabelan, keselamatan di laboratorium,
pengendalian dan pengontrolan tempat kerja, dekontaminasi, disposal, prosedur
keadaan darurat, kesehatan pribadi para pekerja, dan pelatihan.
Bahan kimia dapat menyebabkan
kecelakaan melalui pernafasan (seperti gas beracun),serapan pada kulit
(cairan), atau bahkan tertelan melalui mulut untuk padatan dan cairan. Bahan
kimia berbahaya dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori yaitu, bahan kimia
yang eksplosif (oksidator, logam aktif, hidrida, alkil logam, senyawa
tidak stabil secara termodinamika, gas yang mudah terbakar, dan uap yang mudah
terbakar). Bahan kimia yang korosif (asam anorganik kuat, asam anorganik lemah,
asam organik kuat, asam organik lemah, alkil kuat, pengoksidasi, pelarut
organik). Bahan kimia yang merusak paru-paru (asbes), bahan kimia beracun, dan
bahan kimia karsinogenik (memicu pertumbuhan sel kanker), dan teratogenik.
b. Aliran
Listrik
Penggunaan peralatan dengan daya yang besar akan memberikan
kemungkinan-kemungkinan untuk terjadinya kecelakaan kerja. Beberapa faktor yang
harus diperhatikan antara lain:
(1).
Pemakaian safety switches yang dapat memutus arus listrik jika
penggunaan melebihi limit/batas yang ditetapkan oleh alat.
(2).
Improvisasi terhadap peralatan listrik harus memperhatikan standar keamanan
dari peralatan.
(3).
Penggunaan peralatan yang sesuai dengan kondisi kerja sangat diperlukan untuk
menghindari kecelakaan kerja.
(4).
Berhati-hati dengan air. Jangan pernah meninggalkan perkerjaan yang
memungkinkan peralatan listrik jatuh atau bersinggungan dengan air. Begitu juga
dengan semburan air yang langsung berinteraksi dengan peralatan listrik.
(5).
Berhati-hati dalam membangun atau mereparasi peralatan listrik agar tidak membahayakan
penguna yang lain dengan cara memberikan keterangan tentang spesifikasi
peralatan yang telah direparasi.
(6).
Pertimbangan bahwa bahan kimia dapat merusak peralatan listrik maupun isolator
sebagai pengaman arus listrik. Sifat korosif bahan kimia dapat menyebabkan
kerusakan pada komponen listrik.
(7).
Perhatikan instalasi listrik jika bekerja pada atmosfer yang mudah meledak.
Misalnya pada lemari asam yang digunakan untuk pengendalian gas yang mudah
terbakar.
(8). Pengoperasian suhu dari peralatan listrik akan
memberikan pengaruh pada bahan isolator listrik. Temperatur sangat rendah
menyebabkan isolator akan mudah patah dan rusak.
c.
Radiasi
Radiasi dapat dikeluarkan dari
peralatan semacam X-ray difraksi atau radiasi internal yang digunakan oleh material
radioaktif yang dapat masuk ke dalam badan manusia melalui pernafasan, atau
serapan melalui kulit. Non-ionisasi radiasi seperti ultraviolet, infra merah,
frekuensi radio, laser, dan radiasi elektromagnetik dan medan magnet juga harus
diperhatikan dan dipertimbangkan sebagai sumber kecelakaan kerja.
d. Mekanik
Walaupun industri dan laboratorium
modern lebih didominasi oleh peralatan yang terkontrol oleh komputer, termasuk
di dalamnya robot pengangkat benda berat, namun demikian kerja mekanik masih
harus dilakukan. Pekerjaan mekanik seperti transportasi bahan baku, penggantian
peralatan habis pakai, masih harus dilakukan secara manual, sehingga kesalahan
prosedur kerja dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Peralatan keselamatan kerja
seperti helmet, sarung tangan, sepatu, dan lain-lain perlu mendapatkan
perhatian khusus dalam lingkup pekerjaan ini.
e.
Api
Hampir semua laboratorium atau
industri menggunakan bahan kimia dalam berbagai variasi penggunaan termasuk
proses pembuatan, pemformulaan atau analisis. Cairan mudah terbakar yang sering
digunakan dalam laboratorium atau industri adalah hidrokarbon. Bahan mudah
terbakar yang lain misalnya pelarut organik seperti aseton, benzen, butanol,
etanol, dietil eter, karbon disulfida, toluena, heksana, dan lain-lain.
Sumber api yang lain dapat berasal
dari senyawa yang dapat meledak atau tidak stabil. Banyak senyawa kimia yang
mudah meledak sendiri atau mudah meledak jika bereaksi dengan senyawa lain.
Senyawa yang tidak stabil harus diberi label pada penyimpanannya. Gas
bertekanan juga merupakan sumber kecelakaan kerja akibat terbentuknya atmosfer
dari gas yang mudah terbakar.
f. Suara (kebisingan)
Sumber kecelakaan kerja yang satu
ini pada umumnya terjadi pada hampir semua industri, baik industri kecil,
menengah, maupun industri besar. Generator pembangkit listrik, instalasi
pendingin, atau mesin pembuat vakum, merupakan sekian contoh dari peralatan
yang diperlukan dalam industri. Peralatan-peralatan tersebut berpotensi
mengeluarkan suara yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja dan gangguan
kesehatan kerja. Selain angka kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin, para pekerja
harus memperhatikan berapa lama mereka bekerja dalam lingkungan tersebut.
Pelindung telinga dari kebisingan juga harus diperhatikan untuk menjamin
keselamatan kerja.
g. Keadaan
Darurat Skala Besar dan Situasi Sensitif
Ada banyak jenis kejadian skala besar dan situasi
sensitif yang bisa mempengaruhi perusahaan atau lembaga sampai ketingkat
operasional perusahaan,misalnya :
1) Kebakaran
2) Banjir
3) Gempa Bumi
4) Pemadaman
Listrik
5) Tumpahan
atau lepasnya bahan berbahaya
6) Peneliti
atau penelitian berbau politis atau kontroversi
7) Hilangnya
bahan atau peralatan laboratorium
8) Hilangnya
data atau sistem komputer
h. Pelanggaran
Keamanan
Pelanggaran keamanan secara sengaja atau tidak, bisa
dilakukan oleh petugas, pegawai atau orang luar. Beberapa pelanggaran keamanan,
meliputi ;
Pencurian atau penyalahgunaan peralatan bernilai tinggi
Pencurian atau penyalahgunaan peralatan bernilai tinggi
1) Pencurian
atau penyalah gunaan bahan kimia untuk kegiatan ilegal
2) Pelepasan
bahan kimia berbahaya secara sengaja atau tidak
3) Eksperimentasi
laboratorium secara tidak sah
i. Bahaya
Hayati
Bahaya hayati merupakan masalah di laboratorium yang menangani
mikroorganisme atau bahan yang terkontaminasi mikroorganisme. Bahaya bahaya ini
muncul biasanya muncul di laboratorium penelitian kimia dan penyakit menular,
dan tidak menutup kemungkinan muncul di laboratorium mikrobiologi.
j. Limbah
Berbahaya
Hampir setiap laboratorium menghasilkan limbah. Limbah adalah bahan yang
dibuang atau hendak dibuang, atau tidak lagi berguna sesuai
peruntukannya.Limbah juga meliputi item seperti bahan bekas laboratorium sekali
pakai, media filter, larutan cair, dan bahan kimia berbahaya.
k. Limbah
dianggap berbahaya jika memiliki salah satu sifat berikut ini :
1)
Bisa menyulut api
2)
Korosif
3)
Reaktif
4)
Beracun
l. Bahaya Fisik
Beberapa kegiatan di laboratorium menimbulkan resiko fisik bagi petugas karena
zat atau peralatan yang digunakan, seperti misalnya:
1) Gas yang
dimampatkan
2) Kriogen
tidak mudah menyala
3) Reaksi
tekanan tinggi
4) Kerja vakum
5) Bahaya
frekuensi radio dan gelombang mikro
6) Bahaya
listik
B.
Simbol-simbol
Keamanan di Laboratorium
Tanda dan simbol pencegahan bahaya adalah alat komunikasi
keselamatan yang penting, mereka membantu untuk menunjukkan berbagai bahaya
yang ada di laboratorium. Pada saat yang sama, mereka memperingatkan praktikan
agar selalu waspada terhadap bahaya tersebut dengan memberikan informasi dan
instruksi keselamatan yang dibutuhkan. Kebanyakan kecelakaan bahan kimia yang
dijelaskan diatas terjadi karena kurang baiknya pemahaman mengenai simbol
pencegahan bahaya bahan kimia (label) atau kurang tepatnya tindakan keselamatan.
Hal ini mengindikasikan bahwa pengetahuan terhadap potensi bahaya dan risiko
bahan kimia serta memahami label bahan tersebut akan sangat membantu
pengambilan keputusan yang tepat. Disamping itu juga untuk keamanan dalam
penggunanaan dan penanganan bahan kimia (Adane dan Abeje, 2012). Prosedur ini,
pada akhirnya, akan membantu pengguna untuk menghindari kecelakaan terkait
bahan kimia baik terhadap individu maupun lingkungan.
Penyebab terjadinya kecelakaan di laboratorium bisa berasal
dari luar maupun dari dalam diri seseorang. Padahal ada simbol-simbol yang
menerangkan keterangan / arti pada simbol-simbol tersebut. Apa yang harus
dilakukan pada saat terjadi kecelakaan, tidak dapat dirumuskan dalam kalimat
yang sederhana. Guru harus menekankan kepada siswa bahwa mereka harus
melaporkan sesegera mungkin semua kecelakaan, untuk mendapatkan perlakukan yang
tepat dan memungkinkan guru untuk melakukan penyelidikan.Untuk menciptakan
keselamatan kerja ketika beraktivitas di laboratorium , kita harus mengikuti
aturan keselamatan sebagai berikut:
Simbol
Keselamatan Kerja di Laboratorium dan artinya:
1. Selalu mohon ijin kepada guru untuk
memulai aktivitas.
2. Pelajari prosedur yang akan kita
lakukan. Bila ada yang belum paham, tanyakan kepada guru. Pahamilah beberapa
simbol keselamatan (Gambar diatas) yang ditunjukkan pada berbagai tempat di
laboratorium, misalnya di botol zat kimia atau bahan lain.
3. Gunakan alat-alat keselamatan untuk
melindungi diri, misalnya kacamata atau jas laboratorium.
4. Jika kamu memanaskan tabung reaksi,
jangan arahkan mulut tabung ke arahmu atau temanmu.
5. Jangan pernah makan atau minum di
dalam laboratorium. Jangan sekali-kali menghirup atau mengecap zat kimia.
6. Jika kamu menumpahkan zat kimia,
segera bersihkan dengan air. Laporkan segera kepada gurumu.
7. Kenalilah tempat alat-alat yang
diperlukan untuk keperluan darurat seperti pemadam kebakaran, kotak P3K, mantel
api, semprotan keselamatan, dan alarm kebakaran. Jauhkan semua bahan dari api.
8. Bagi yang berambut panjang, ikatlah
rambutmu ke belakang.
9. Jika terjadi kebakaran di dalam
kelas atau jika baju terjilat api, padamkanlah dengan mantel kebakaran atau
semprotkan dengan penyemprot keselamatan bila ada. Jangan langsung lari
meninggalkan api.
10. Laporkan setiap kecelakaan sekecil
apapun kepada gurumu.
Paipai
Lovelove
Tidak ada komentar:
Posting Komentar