Rabu, 12 Desember 2018



KESELAMATAN KERJA LABORATORIUM 
PART I


Assalamualaikum Wr.Wb.
Bagaimana matri pertamanya sobat ?
Semoga bisa dinikmati dan memberikan manfaat.
Nah .... Postingan kali ini adalah mengenai Keselmatan Kerja Laboratorium.

Supaya tetap nyaman dan aman saat praktikum atau berkerja di laboratorium, kita harus paham bahaya apa yang ada di laboratorium, peraturan yang harus ditaati dan masih banyak lagi.

Yuks .... Langsung ke materi.



A.     Jenis – Jenis Bahaya di Laboratorium
1.      Pengertian Bahaya
Bahaya adalah sumber, situasi, atau tindakan yang dapat berpotensi menimbulkan cidera atau penyakit atau kombinasi keduanya. Bekerja di laboratorium mengandung bahaya berupa kecelakaan. Kecelakaan yamg sering terjadi di laboratorium berupa kebakaran, kesakitan, kematian dan kerugian akibat kecelakaan ataupun kerusakan peralatan laboratorium.Untuk menghindari dan meminimalkan kemungkinan terjadinya potensi bahaya di tempat kerja, Pengenalan potensi bahaya di tempat kerja merupakan dasar untuk mengetahui pengaruhnya terhadap tenaga kerja, serta dapat dipergunakan untuk mengadakan upaya-upaya pengendalian dalam rangka pencegahan penyakit akibat kerja yang mungkin terjadi.

Terdapat serangkaian strategi dasar yang bisa dilakukan untuk mencegah bahaya agar tidak melukai orang dan merusak properti, hal ini disebut sebagai hirarki pengendalian bahaya. Hirarki ini mendefinisikan prioritas untuk menangani produk atau mengatasi bahaya lingkungan. pertama adalah merancangnya sehingga tidak terdapat bahaya, kedua adalah mencegah kontak antara orang dan bahaya, dan yang ketiga memperingatkan (Laughery dan Wogalter, 2011).

Pendekatan pertama dan yang lebih disukai untuk mengatasi bahaya adalah dengan menghilangkannya melalui desain alternatif. Mengganti komponen yang tidak beracun untuk komponen beracun dalam produk kimia adalah contohnya (Sheldon, 2016). Namun, tidak selalu layak secara teknologi dan ekonomi untuk merancang suatu produk sehingga tidak memiliki bahaya.

Prioritas kedua adalah perlindungan, dapat dipandang sebagai sarana untuk mencegah kontak antara orang dan bahaya. Perlindungan fisik seperti alat pelindung diri merupakan langkah yang bisa diambil pada kasus ini (Sutton, 2017). Melindungi juga dapat dilakukan secara prosedural, seperti adanya SOP yang ketat untuk aktivitas laboratorium, atau kombinasi antara fisik dan prosedural (Indiana University, 2017). Namun, seperti masalah desain alternatif, perlindungan tidak selalu layak atau efektif, yang berarti diperlukan metode lain.
Tahapan ketiga dari pengendalian terhadap bahaya adalah dengan memperingatkan. Peringatan dimaksudkan untuk memberikan informasi yang dibutuhkan dalam penggunaan produk (atau saat dipakai di lingkungan) secara aman. Peringatan, seperti halnya strategi lain juga memiliki keterbatasan dalam hal efektivitas. Orang mungkin tidak melihat atau mendengar sebuah peringatan, mereka mungkin tidak memahaminya, atau mereka mungkin tidak cukup termotivasi untuk menaatinya. Tapi kekhawatiran ini bukan dasar atau alasan untuk tidak memberi peringatan. Sebaliknya, keterbatasan ini memiliki dua implikasi praktis. Salah satunya adalah bahwa peringatan tersebut perlu dirancang sedemikian rupa sehingga membuatnya lebih efektif. Poin kedua adalah bahwa peringatan tersebut harus dianggap sebagai satu alat atau pendekatan untuk menangani produk dan menjaga keamanan lingkungan (Laughery dan Wogalter, 2011).

Secara umum, potensi bahaya lingkungan kerja dapat berasal atau bersumber dari berbagai faktor, antara lain :
1)   faktor teknis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau terdapat pada peralatan kerja yang digunakan atau dari pekerjaan itu sendiri;
2)   faktor lingkungan, yaitu potensi bahaya yang berasal dari atau berada di dalam lingkungan, yang bisa bersumber dari proses produksi termasuk bahan baku, baik produk antara maupun hasil akhir;
3)   faktor manusia, merupakan potensi bahaya yang cukup besar terutama apabila manusia yang melakukan pekerjaan tersebut tidak berada dalam kondisi kesehatan yang prima baik fisik maupun psikis.


2.      Hal Yang Harus Diperhatikan
Ada tiga hal yang harus diperhatikan agar peringatan tersebut menjadi efektif. Pertama, peringatan harus menarik perhatian. Orang biasanya tidak mencari-mencari peringatan; Oleh karena itu, peringatan harus mencolok. Kedua, peringatan tersebut harus memberikan pengetahuan dan meningkatkan pemahaman pengguna tentang peringatan untuk membuat individu sadar akan bahaya, konsekuensi serta apa yang harus dilakukan untuk menghindari bahaya tersebut. Ketiga, peringatan harus menumbuhkan perilaku kepatuhan. Mengarahkan dalam pengambilan keputusan, terutama pada tahap pengetahuan (Emery, dkk, 2015). Laughery dan Wogalter (2011) menyimpulkan bahwa efektivitas peringatan di masing-masing bidang ini ditentukan oleh faktor desain dan non-desain. Faktor desain adalah faktor yang terkait dengan karakteristik peringatan sebenarnya (misalnya: piktogram), sedangkan faktor non-desain berkaitan dengan faktor kontekstual yang tidak bergantung pada desain peringatan sebenarnya.

Alasan seseorang mematuhi peringatan tidak hanya bergantung pada karakteristik peringatan tetapi juga pada banyak faktor tambahan, seperti pengalaman pengguna, keakraban dengan produk atau situasi, kompetensi atau kemampuan untuk melakukan tindakan tersebut, dan pertimbangan terhadap biaya-manfaat. Biaya dapat berupa uang, waktu, dan usaha. Manfaat termasuk menghindari cedera, kerusakan properti, atau efek kesehatan negatif.

Meskipun ada bahaya yang terkait dengan pekerjaan laboratorium, potensi bahaya dapat dikurangi dengan memberlakukan sistem penanganan dan pengelolaan yang aman. Kecelakaan terkait bahan kimia kebanyakan terjadi karena pengabaian tindakan pencegahan atau tidak adanya simbol kehati-hatian pada bahan tersebut (Su dan Hsu, 2008). Jadi untuk menarik perhatian pengguna serta sarana untuk mengklasifikasikan bahan kimia, masing-masing bahan kimia harus diberi label dengan simbol pencegahan bahaya yang menunjukkan fiturnya. Simbol-simbol ini (mudah terbakar, korosif, mengiritasi, berbahaya bagi lingkungan, radioaktif, pengoksidasi, toksik atau berbahaya) mencakup berbagai warna dan gambar yang dirancang untuk memberi tahu pengguna tentang fitur bahan kimia (United Nations, 2017). Simbol pencegahan bahaya dan risiko ini harus diketahui oleh semua orang yang masuk laboratorium. Pemahaman terhadap makna dari simbol pencegahan bahaya akan membantu penggunaan bahan kimia secara aman.

3.      Penyebab Terjadinya Kecelakaan Atau Bahaya
Terjadinya kecelakaan dapat disebabkan oleh banyak hal, tetapi dari analisis terjadinya kecelakaan menunjukkan bahwa hal-hal berikut adalah sebab-sebab terjadinya kecelakaan di laboratorium:
1.      Kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang bahan-bahan kimia dan proses-proses serta perlengkapan atau peralatan yang digunakan dalam melakukan kegiatan
laboratorium.
2.      Kurang jelasnya petunjuk kegiatan laboratorium dan juga kurangnya pengawasan yang dilakukan selama melakukan kegiatan laboratorium.
3.      Kurangnya bimbingan terhadap siswa atau mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan laboratorium.
4.      Kurangnya atau tidak tersedianya perlengkapan keamanan dan perlengkapan pelindung kegiatan laboratorium.
5.      Kurang atau tidak mengikuti petunjuk atau aturan-aturan yang semestinya harus ditaati.
6.      Tidak menggunakan perlengkapan pelindung yang seharusnya digunakan atau menggunakan peralatan atau bahan yang tidak sesuai.
7.      Tidak bersikap hati-hati di dalam melakukan kegiatan.

Terjadinya kecelakaan di laboratorium dapat dikurangi seminimal mungkin jika setiap orang yang menggunakan laboratorium mengetahui tanggung jawabnya. Berikut adalah orang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap keamanan laboratorium:
1.      Lembaga atau staf laboratorium bertanggung jawab atas fasilitas laboratorium yaitu kelengkapannya, pemeliharaan, dan keamanan laboratorium.
2.      Guru bertanggung jawab di dalam memberikan semua petunjuk yang diperlukan kepada siswa termasuk di dalamnya aspek keamanan.
3.      Siswa bertanggung jawab untuk mempelajari aspek kesehatan dan keselamatan dari bahan-bahan kimia yang berbahaya, baik yang digunakan maupun yang dihasilkan dari suatu reaksi, keselamatan dari teknik dan prosedur atau cara kerja yang akan dilakukannya. Dengan demikian siswa dapat menyusun peralatan dan mengikuti prosedur yang seharusnya, sehingga bahaya kecelakaan dapat dihindarkan atau dikurangi.


4.       Jenis Kecelakaan Dapat Terjadi Dilaboratorium Sekolah
Berbagai jenis kecelakaan dapat terjadi dilaboratorium sekolah. Jenis-jenis kecelakaan yang dapat terjadi di laboratorium sekolah diantaranya:
a.    Terluka, disebabkan oleh pecahan kaca dan/atau tertusuk benda-benda tajam yang lain.
b.    Terbakar,disebabkan tersentuh api atau benda panas lain, dan oleh bahan kimia tertentu seperti fosfor.
c.    Terkena Racun (Keracunan),keracunan ini terjadi karena bekerja menggunakan zat beracun yang secara tidak sengaja dan/atau kecerobohan masuk ke dalam tubuh. Perlu diketahui bahwa beberapa jenis zat beracun dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit.
d.    Terkena Zat Korosif,seperti berbagai jenis asam. Misalnya asam siliat pekat, asam format, atau berbagai jenis basa seperti natrium hidroxida, kalium hidroksida dan ‘0,880’ larutan amonia dalam air.
e.    Terkena Radiasi, radiasi sifatnya sangat berbahaya jika terkena ke tubuh manusia, misalnua sinar dari zat radioaktif (jika disekolah tersedia zat seperti ini), sinar X dan sinar Ultraviolet.
f.      Terkena Kejutan Listrik, pada waktu menggunakan listrik bertegangan tinggi.

Beberapa sumber bahaya yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dapat dikategorikan sebagai berikut:
a.    Bahan Kimia
Meliputi bahan mudah terbakar, bersifat racun, korosif, tidak stabil, sangat reaktif, dan gas yang berbahaya. Penggunaan senyawa yang bersifat karsinogenik dalam industri maupun laboratorium merupakan problem yang signifikan, baik karena sifatnya yang berbahaya maupun cara yang ditempuh dalam penanganannya. Beberapa langkah yang harus ditempuh dalam penanganan bahan kimia berbahaya meliputi manajemen, cara pengatasan, penyimpanan dan pelabelan, keselamatan di laboratorium, pengendalian dan pengontrolan tempat kerja, dekontaminasi, disposal, prosedur keadaan darurat, kesehatan pribadi para pekerja, dan pelatihan.

Bahan kimia dapat menyebabkan kecelakaan melalui pernafasan (seperti gas beracun),serapan pada kulit (cairan), atau bahkan tertelan melalui mulut untuk padatan dan cairan. Bahan kimia berbahaya dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori yaitu, bahan kimia yang eksplosif (oksidator, logam aktif, hidrida, alkil logam, senyawa tidak stabil secara termodinamika, gas yang mudah terbakar, dan uap yang mudah terbakar). Bahan kimia yang korosif (asam anorganik kuat, asam anorganik lemah, asam organik kuat, asam organik lemah, alkil kuat, pengoksidasi, pelarut organik). Bahan kimia yang merusak paru-paru (asbes), bahan kimia beracun, dan bahan kimia karsinogenik (memicu pertumbuhan sel kanker), dan teratogenik.

b.    Aliran Listrik
Penggunaan peralatan dengan daya yang besar akan memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk terjadinya kecelakaan kerja. Beberapa faktor yang harus diperhatikan antara lain:
(1). Pemakaian safety switches yang dapat memutus arus listrik jika penggunaan melebihi limit/batas yang ditetapkan oleh alat.
(2). Improvisasi terhadap peralatan listrik harus memperhatikan standar keamanan dari peralatan.
(3). Penggunaan peralatan yang sesuai dengan kondisi kerja sangat diperlukan untuk menghindari kecelakaan kerja.
(4). Berhati-hati dengan air. Jangan pernah meninggalkan perkerjaan yang memungkinkan peralatan listrik jatuh atau bersinggungan dengan air. Begitu juga dengan semburan air yang langsung berinteraksi dengan peralatan listrik.
(5). Berhati-hati dalam membangun atau mereparasi peralatan listrik agar tidak membahayakan penguna yang lain dengan cara memberikan keterangan tentang spesifikasi peralatan yang telah direparasi.
(6). Pertimbangan bahwa bahan kimia dapat merusak peralatan listrik maupun isolator sebagai pengaman arus listrik. Sifat korosif bahan kimia dapat menyebabkan kerusakan pada komponen listrik.
(7). Perhatikan instalasi listrik jika bekerja pada atmosfer yang mudah meledak. Misalnya pada lemari asam yang digunakan untuk pengendalian gas yang mudah terbakar.
(8). Pengoperasian suhu dari peralatan listrik akan memberikan pengaruh pada bahan isolator listrik. Temperatur sangat rendah menyebabkan isolator akan mudah patah dan rusak.

c.    Radiasi
Radiasi dapat dikeluarkan dari peralatan semacam X-ray difraksi atau radiasi internal yang digunakan oleh material radioaktif yang dapat masuk ke dalam badan manusia melalui pernafasan, atau serapan melalui kulit. Non-ionisasi radiasi seperti ultraviolet, infra merah, frekuensi radio, laser, dan radiasi elektromagnetik dan medan magnet juga harus diperhatikan dan dipertimbangkan sebagai sumber kecelakaan kerja.
d.   Mekanik
Walaupun industri dan laboratorium modern lebih didominasi oleh peralatan yang terkontrol oleh komputer, termasuk di dalamnya robot pengangkat benda berat, namun demikian kerja mekanik masih harus dilakukan. Pekerjaan mekanik seperti transportasi bahan baku, penggantian peralatan habis pakai, masih harus dilakukan secara manual, sehingga kesalahan prosedur kerja dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Peralatan keselamatan kerja seperti helmet, sarung tangan, sepatu, dan lain-lain perlu mendapatkan perhatian khusus dalam lingkup pekerjaan ini.

e.    Api
Hampir semua laboratorium atau industri menggunakan bahan kimia dalam berbagai variasi penggunaan termasuk proses pembuatan, pemformulaan atau analisis. Cairan mudah terbakar yang sering digunakan dalam laboratorium atau industri adalah hidrokarbon. Bahan mudah terbakar yang lain misalnya pelarut organik seperti aseton, benzen, butanol, etanol, dietil eter, karbon disulfida, toluena, heksana, dan lain-lain.
Sumber api yang lain dapat berasal dari senyawa yang dapat meledak atau tidak stabil. Banyak senyawa kimia yang mudah meledak sendiri atau mudah meledak jika bereaksi dengan senyawa lain. Senyawa yang tidak stabil harus diberi label pada penyimpanannya. Gas bertekanan juga merupakan sumber kecelakaan kerja akibat terbentuknya atmosfer dari gas yang mudah terbakar.

f.     Suara (kebisingan)
Sumber kecelakaan kerja yang satu ini pada umumnya terjadi pada hampir semua industri, baik industri kecil, menengah, maupun industri besar. Generator pembangkit listrik, instalasi pendingin, atau mesin pembuat vakum, merupakan sekian contoh dari peralatan yang diperlukan dalam industri. Peralatan-peralatan tersebut berpotensi mengeluarkan suara yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan kerja. Selain angka kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin, para pekerja harus memperhatikan berapa lama mereka bekerja dalam lingkungan tersebut. Pelindung telinga dari kebisingan juga harus diperhatikan untuk menjamin keselamatan kerja.

g.    Keadaan Darurat Skala Besar dan Situasi Sensitif
Ada banyak jenis kejadian skala besar dan situasi sensitif yang bisa mempengaruhi perusahaan atau lembaga sampai ketingkat operasional perusahaan,misalnya :
1)   Kebakaran
2)   Banjir
3)   Gempa Bumi
4)   Pemadaman Listrik
5)   Tumpahan atau lepasnya bahan berbahaya
6)   Peneliti atau penelitian berbau politis atau kontroversi
7)   Hilangnya bahan atau peralatan laboratorium
8)   Hilangnya data atau sistem komputer

h.    Pelanggaran Keamanan
Pelanggaran keamanan secara sengaja atau tidak, bisa dilakukan oleh petugas, pegawai atau orang luar. Beberapa pelanggaran keamanan, meliputi ;
Pencurian atau penyalahgunaan peralatan bernilai tinggi
1)   Pencurian atau penyalah gunaan bahan kimia untuk kegiatan ilegal
2)   Pelepasan bahan kimia berbahaya secara sengaja atau tidak
3)   Eksperimentasi laboratorium secara tidak sah

i.      Bahaya Hayati 
Bahaya hayati merupakan masalah di laboratorium yang menangani mikroorganisme atau bahan yang terkontaminasi mikroorganisme. Bahaya bahaya ini muncul biasanya muncul di laboratorium penelitian kimia dan penyakit menular, dan tidak menutup kemungkinan muncul di laboratorium mikrobiologi.


j.      Limbah Berbahaya
Hampir setiap laboratorium menghasilkan limbah. Limbah adalah bahan yang dibuang atau hendak dibuang, atau tidak lagi berguna sesuai peruntukannya.Limbah juga meliputi item seperti bahan bekas laboratorium sekali pakai, media filter, larutan cair, dan bahan kimia berbahaya.

k.    Limbah dianggap berbahaya jika memiliki salah satu sifat berikut ini :
1)        Bisa menyulut api
2)        Korosif
3)        Reaktif
4)        Beracun

l.      Bahaya Fisik
Beberapa kegiatan di laboratorium menimbulkan resiko fisik bagi petugas karena zat atau peralatan yang digunakan, seperti misalnya:
1)   Gas yang dimampatkan
2)   Kriogen tidak mudah menyala
3)   Reaksi tekanan tinggi
4)   Kerja vakum
5)   Bahaya frekuensi radio dan gelombang mikro
6)   Bahaya listik

B.     Simbol-simbol Keamanan di Laboratorium
Tanda dan simbol pencegahan bahaya adalah alat komunikasi keselamatan yang penting, mereka membantu untuk menunjukkan berbagai bahaya yang ada di laboratorium. Pada saat yang sama, mereka memperingatkan praktikan agar selalu waspada terhadap bahaya tersebut dengan memberikan informasi dan instruksi keselamatan yang dibutuhkan. Kebanyakan kecelakaan bahan kimia yang dijelaskan diatas terjadi karena kurang baiknya pemahaman mengenai simbol pencegahan bahaya bahan kimia (label) atau kurang tepatnya tindakan keselamatan. Hal ini mengindikasikan bahwa pengetahuan terhadap potensi bahaya dan risiko bahan kimia serta memahami label bahan tersebut akan sangat membantu pengambilan keputusan yang tepat. Disamping itu juga untuk keamanan dalam penggunanaan dan penanganan bahan kimia (Adane dan Abeje, 2012). Prosedur ini, pada akhirnya, akan membantu pengguna untuk menghindari kecelakaan terkait bahan kimia baik terhadap individu maupun lingkungan.

Penyebab terjadinya kecelakaan di laboratorium bisa berasal dari luar maupun dari dalam diri seseorang. Padahal ada simbol-simbol yang menerangkan keterangan / arti pada simbol-simbol tersebut. Apa yang harus dilakukan pada saat terjadi kecelakaan, tidak dapat dirumuskan dalam kalimat yang sederhana. Guru harus menekankan kepada siswa bahwa mereka harus melaporkan sesegera mungkin semua kecelakaan, untuk mendapatkan perlakukan yang tepat dan memungkinkan guru untuk melakukan penyelidikan.Untuk menciptakan keselamatan kerja ketika beraktivitas di laboratorium , kita harus mengikuti aturan keselamatan sebagai berikut:
Simbol Keselamatan Kerja di Laboratorium dan artinya:
1.    Selalu mohon ijin kepada guru untuk memulai aktivitas.
2.    Pelajari prosedur yang akan kita lakukan. Bila ada yang belum paham, tanyakan kepada guru. Pahamilah beberapa simbol keselamatan (Gambar diatas) yang ditunjukkan pada berbagai tempat di laboratorium, misalnya di botol zat kimia atau bahan lain.
3.    Gunakan alat-alat keselamatan untuk melindungi diri, misalnya kacamata atau jas laboratorium.
4.    Jika kamu memanaskan tabung reaksi, jangan arahkan mulut tabung ke arahmu atau temanmu.
5.    Jangan pernah makan atau minum di dalam laboratorium. Jangan sekali-kali menghirup atau mengecap zat kimia.
6.    Jika kamu menumpahkan zat kimia, segera bersihkan dengan air. Laporkan segera kepada gurumu.
7.    Kenalilah tempat alat-alat yang diperlukan untuk keperluan darurat seperti pemadam kebakaran, kotak P3K, mantel api, semprotan keselamatan, dan alarm kebakaran. Jauhkan semua bahan dari api.
8.    Bagi yang berambut panjang, ikatlah rambutmu ke belakang.
9.    Jika terjadi kebakaran di dalam kelas atau jika baju terjilat api, padamkanlah dengan mantel kebakaran atau semprotkan dengan penyemprot keselamatan bila ada. Jangan langsung lari meninggalkan api.
10.  Laporkan setiap kecelakaan sekecil apapun kepada gurumu.



Paipai
Lovelove

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Video ISO17025

Assalamualaikum Wr.Wb Selamat menyaksikan video ini. Maaf karena videonya tidak admin gabung dengan tulisan admin di blog, karena .........